Salah satu alasan mengapa kami sekeluarga memilih Belitung karena Belitung merupakan pulau yang tidak terlalu besar dengan beberapa pantai memukau, museum yang menyenangkan, dan pengalaman  kuliner yang selalu bikin lupa kalau perut ini kian membuncit.

Penerbangan Jakarta – Belitung hanya memakan waktu satu jam perjalanan. Pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara H.AS.Hanandjoeddin Tanjung Pandan.

IMG_9569.JPG

Sebelum terbang ke Belitung saya juga sudah melakukan kontak Pak Darmawan, salah satu pemilik tour and travel lokal di Tanjung Pandan untuk menjemput kami sekeluarga. Bepergian di Belitung disarankan menyewa mobil baik dikemudikan sendiri atau dengan drivernya.  Karena saat ini di Belitung tidak ada angkutan umum atau bis. Kalaupun ada taksi, itupun jumlahnya sangat minim.  Jadi daripada mengambil resiko terbengkalai, baiknya kita sewa mobil saja.

Destinasi pertama sambil check-in menuju hotel yang bisa kita datangi adalah Danau Kaolin. Sebagai daerah penghasil timah dan kaolin Belitung pernah menjadi salah satu penghasil terkenal di masa jayanya dulu. Tempat ini ramai sekali oleh para penambang dan pekerja yang menjalankan operasional tambang di bawah tanggung jawab PT PN Timah.

Di balik luka besar bekas penambangan kaolin akan kita temukan sebuah keindahan yang terbentuk di tengah-tengah bekas daerah ekploitasi kaolin yang sebenarnya memprihatinkan dan sudah mencapai taraf memprihatinkan. Di daerah bekas tambang kaolin ini terbentuk sebuah danau yang berasal dari air yang terkumpul dalam sebuah ceruk yang berada di sana. 

Danau Kaolin

IMG_9700.JPG

Keelokan sekitar danau kaolin ini memang sangat terasa, di mana air yang tertampung memiliki warna biru tosca dan sangat jernih. Hamparan tanah yang menggunduk di tengah danau ini terlihat seperti punggung ular naga besar yang muncul sedikit ke permukaan, di mana menghubungkan antara satu sisi danau ke sisi lainnya. Warna putih kaolin pun sebenarnya menjadi keindahan tersendiri yang unik untuk dinikmati.

IMG_9706.JPG

Perjalanan dari bandara menuju ke hotel memakan waktu sekitar 30 menit.  Tidak ada kemacetan di Belitung, karena populasi penduduknya masih sangat sedikit dan kendaraan juga terbatas.  Kami tiba di hotel BW Suites Jalan Pattimura.  Jangan bayangkan suasananya seperti di Bali, dimana kiri dan kanan jalan banyak terdapat cafe dan toko.  Disini sepi sekali, namun pemandangan pantainya luar biasa.  Sejenak keluar dari hiruk pikuk suasana kota besar.

Karena hari sudah siang, perut mulai keroncongan dan segeralah kita meluncur ke salah satu Chinese Food Restaurant yang cukup populer di Belitung

Thai Fa Restaurant

 

Proses pemesanan cukup memakan waktu, karena disini semua dikelola sendiri alias tidak menggunakan pegawai.  Jadi mulai dari proses memasak sampai dengan melayani konsumen semuanya dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.

Menu yang kita pilih adalah puyunghai, babi hong, dan udang goreng tepung.  Ada citarasa berbeda yang kita temui disini.  Puyunghainya menggunakan lebih sedikit telur dibandingkan dengan yang kita temui di Jakarta atau Bandung.  Tetapi penggunaan daging kepitingnya mantap.

Selain itu babi hong-nya pun mempunyai karakter yang berbeda.  Disini tanpa menyertakan samcan/lemak, hampir seluruhnya daging babi dan rasanya pun lebih menyerupai rendang.

Museum Tanjung Pandan

Berikutnya kami mendatangi Museum Tanjung Pandan.  Kegiatan yang hampir mustahil kita lakukan di kota besar.  Banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan disini.  Mulai dari sejarah Belitung, datangnya bangsa Tiongkok beserta kapalnya yang karam, dan beberapa informasi mengenai satwa khas.

Kong Djie Coffee

Warung kecil di pojokan jalan ini rasanya tak pernah sepi. Kondisinya sederhana sekali, tapi ketika kita masuk dan duduk bercengkrama dengan pengunjung lain, kita akan merasakan sebuah kehangatan lain yang selalu dirasakan ketika memasuki warung-warung kopi tradisioanl semacam ini.

IMG_1823

Warung Kong Djie namanya, berdiri sejak tahun 1943.  Terletak di sudut jalan di depan sebuah gereja Regina Pacis dan tepat dipinggir jalan raya yang menghubungkan tugu batu satam dan pantai Tanjung Pendam, serta berdekatan pula dengan pasar dan pelabuhan. Karena letaknya sangat strategis warung ini tidak pernah sepi pengunjung dari mulai buka jam 05.00 dinihari hingga malam pukul 21.00

IMG_1827

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Belitung  mengawali dan mengakhiri hari dengan segelas kopi. Pagi hari ketika mereka hendak berangkat kerja biasanya di hantaran oleh semangat pagi dari segelas kopi yang di racik sempurna di warung Kong Djie. Dan setelah pulang kerja segelas kopi juga seolah dijadikan sarana untuk melepas penat yang menghimpit akibat beban pekerjaan.

IMG_1830

Pantai Tanjung Pendam

Hari sudah mulai agak sore, kegiatan yang paling pas tentunya menyaksikan sunset atau matahari terbenam.  Dan kegiatan ini kami lakukan di Pantai Tanjung Pendam, tidak jauh lokasinya dari hotel tempat kita menginap.

Pemandangannya sangat menakjubkan dan pantainya cukup bersih. Banyak orang yang datang ke pantai ini, sekedar mengobrol dan bermain sambil menunggu matahari jatuh ke peraduan.

IMG_1901.JPGIMG_9679

Malam hari di Belitung tidak nampak keramaian di daerah hotel tempat kami menginap.  Jadi kami segera menuju ke pusat keramaian di Tanjung Pandan.  Dan saatnya marathon kuliner.

Songsui

IMG_9663.JPG

Song Sui adalah merupakan masakan / kuliner khas Bangka Belitung yang dimasak dengan menggunakan daging babi beserta jeroannya dicampur dengan Ang Ciu / Arak Anggur Merah. Tidak lupa juga sayur asin dan taburan kerupuk kulit aka dorokdok (sunda, red). Yang membuat semakin nikmat makan Song Sui ini adalah mencocol isinya dengan kecap cabe rawit yang telah disiapkan. Kuah dari Song Sui ini sendiri rasanya gurih dari kaldu serta bawang putih yang cukup kuat.

Hoklopan / Martabak Manis

Hoklopan (kue orang Hoklo), sering disebut kue terang bulan karena bentuknya bulat dan kuning, adalah salah satu makanan yang mungkin sudah ada di tradisi orang Hokkian, tetapi mengalami beberapa penyesuaian dengan beberapa selera kebanyakan orang-orang di Bangka / Belitung pada waktu itu (sama seperti semangat dagang orang madura menjual sate ayam madura, yang berusaha untuk menyesuaikan dengan selera konsumen).

Kedai Kopi Athiam

Sudah malam masih mampir ke kedai kopi? Ngga salah kok, pendiuduk disini selalu berkumpul dan bersosialisasi di kedai kopi, salah satunya di kedai kopi Athiam.  Lokasinya agak masuk dari jalan utama.  Sambil membawa hoklopan yang barusan dibeli, jadilah kita ikut kongkow sampai mata mulai mengantuk.

to be continued…

Advertisements