lanjutan dari Belitung Experience #02

IMG_1987

masih di DAY 02…

Selesai dari rumah Ahok dan sempat berfoto dengan ibunda beliau, rencana selanjutnya adalah menuju Manggar. Kota Manggar, Belitung Timur,  identik dengan kota seribu satu warung kopi. Hampir di setiap sudut kota terdapat warung kopi. Pengunjungnya asyik minum kopi sambil mengobrol dan main kartu di warung-warung kopi yang tersebar di Kota Manggar.

Manggar

IMG_9777.JPG

Bangunannya rata-rata merupakan bangunan sederhana beratap seng dan dinding bambu atau papan kayu. Jangan bayangkan seperti coffee shop di Jakarta, Bandung, maupun kota besar lainnya yang dilengkapi sofa, televisi, wi-fi, dan AC. Namun, justru warung kopi yang sederhana itu yang bisa dinikmati warga asli Belitung dan wisatawan luar yang ingin menikmati kopi Manggar. 

Siang itu kami mencoba mampir di salah satu warung kopi di Manggar, yaitu Warung Kopi Millenium, yang selalu ramai pembeli. Hanya lima menit, pesanan sudah diantarkan ke meja. Kopi susunya nikmat, bercampur antara manis rasa susu dan sedikit rasa kopi pahit. 

Sekedar informasi, tahun 2011 di Manggar sengaja diselenggarakan acara rekor memecahkan minum kopi susu oleh MURI yang diikuti oleh 15.000 orang. Dengan adanya acara itu, Kota Manggar sudah dicanangkan sebagai Kota 1.001 Warung Kopi oleh Gubernur Bangka Belitung.

Masih banyak destinasi di Belitung Timur ini, setelah bersantai sejenak kita pun lanjut ke vihara tertua dan terbesar di Belitung

Vihara Dewi Kwan Im

Vihara ini menjadi vihara terbesar dan tertua yang ada di Pulau Belitung. Setiap harinya, vihara ini ramai didatangi pengunjung baik yang ingin beribadah maupun berwisata.  Ditemukan pertama kali pada tahun 1747. Konon, Dewi Kwan Im bersembahyang di atas batu yang ada di Kon Im, salah satu tempat sembayang paling besar di vihara ini.

IMG_9811.JPG

Untuk memasuki vihara ini, kita harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 86 buah. Vihara ini memiliki tiga tempat sembahyang. Pertama, Shimunyo yang berada di dekat anak tangga. Naik lebih ke atas, maka Anda akan menjumpai satu lagi tempat sembahyang bernama Sitiyamuni. Beranjak lebih ke atas, maka kita akan menjumpai tempat sembahyang yang paling besar di vihara ini yaitu Kon Im.

IMG_9837.JPG

Pengunjung vihara ini tidak hanya warga Indonesia, turis mancanegara pun banyak yang berkunjung ke vihara yang terletak di Desa Burung Mandi ini. Sebagian warga mengaku, jika sembahyang dan berdoa memohon keinginan di vihara akan segera terkabul.  Selain sebagai tempat ibadah, vihara ini juga memiliki pemandangan indah Gunung Burung Mandi yang terletak persis di belakang vihara ini. 

Pantai Burong Mandi dan Pantai Serdang

Pantai Burong Mandi terletak hanya sekitar 800m ke arah timur dari Vihara Dewi Kwan Im. Panjang pantai ini sekitar 1,5 km, sehingga dari ujung yang satu hanya samar-samar bisa melihat ke sisi ujung lainnya.

Pantai Burong Mandi menghadap langsung ke Laut Jawa, tanpa adanya pulau pelindung di lepas pantainya. Sehingga pada musim tertentu ombak dan anginnya yang bertiup ke arah pantai cukup besar dan membuatnya air lautnya cukup berbahaya untuk berenang atau berlayar di tempat ini.

Pasir halus berwarna coklat keputihan di pinggiran Pantai Burong Mandi yang terus menerus disapa riak gelombang laut yang tidak begitu besar, namun cukup untuk menciptakan suara ritmis yang terus menerus.

IMG_9834.jpg
Pantai Burong Mandi

Pantai Serdang juga terdapat di Belitung Timur, merupakan salah satu destinasi yang menarik, sama halnya dengan pantai Burong Mandi.  Terletak tidak terlalu jauh dari pantai Burong Mandi.  Pantai ini terkenal dengan keindahan pasirnya yang sangat putih dan halus.  Air lautnya cukup tenang dan banyak pepohonan sehingga kita bisa menikmati pantai tanpa perlu kuatir kepanasan.  Sangat pas menjadi sasaran fotografer untuk menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas. Pantai ini merupakan lokasi yang tepat untuk menyaksikan matahari terbit / sunrise karena pantai ini memang menghadap ke timur.

IMG_9805
Pantai Serdang

Selesai jalan-jalan hampir lebih dari setengah hari di Belitung Timur, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali ke wilayah barat.  Dan saatnya kuliner…..

Mie Belitung Atep

Sasaran kuliner setibanya di Tanjung Pandan adalah mie Belitung.  Dan yang sudah sangat populer tentu saja Mie Atep ini. Kedai ini dikelola oleh Nyonya Atep secara langsung, yang telah 39 tahun lebih berjualan mie belitung dengan racikan bumbunya sendiri, Nyonya Atep hingga saat ini masih melayani sendiri pembelinya yang datang dari berbagai kota.

IMG_9847

Mie Belitung berupa mie kuning yang disiram kuah udang dan ditaburi bakwan udang, irisan timun, potongan kentang rebus, udang rebus, emping melinjo dan toge.  Aroma kuah kaldunya yang begitu khas dan berbau udang sangat mudah menggugah selera apalagi jika dinikmati selagi hangat.

IMG_9848.JPG

Meskipun kedainya saat ini sudah sangat ramai, Nyonya Atep tidak membuka cabang di tempat lain selain di Jl. Sriwijaya No. 27, Tanjung Pandan, Belitung. Mungkin inilah yang membuatnya menjadi begitu legendaris.

Mie Atep Belitung

Jl. Sriwijaya No. 27

Tanjung Pandan, Belitung.

Kepulauan Bangka Belitung 33411

Telp : (0719) 21464

Jam Buka : 8:00 Pagi – 8:00 Malam

Gangan

Jika selama ini kita menikmati ikan dengan cara dibakar atau digoreng, kuliner yang satu ini sangat layak untuk dicoba. Namanya gangan. Kuliner otentik Belitung ini menyajikan ikan  yang dimasak dalam bentuk sup dengan rasa yang segar. Ikannya bisa ikan laut apa saja, tenggiri, katarap, kuwe, ikan merah, dan lainnya.

Gangan memiliki warna kuning yang dominan dan rasa yang sedikit asam dan gurih. Sepintas memamb miriup dengan gulai, namun gangan tidak menggunakan santan. Ikan dimasak dengan campuran bumbu seperti kunyit, bawang merah, lengkuas, dan cabai. Karenanya, kuah gangan kaya akan rasa bumbu khas Indonesia. Tambahan irisan nanas membuat rasa gangan menjadi lebih segar ketika kita mencicipi hidangan ini.

IMG_9842.JPG
Sup Gangan ikan katarap

Sup gangan ini bisa kita temui di banyak tempat di kawasan Tanjung Pandan.  Diantaranya ada di Dapoer Belitung dan Restoran Timpo Duluk.  Ternyata tak hanya ikan atau produk laut lainnya yang bisa dijadikan bahan utama gangan.  Ada jenis lain yang dinamakan gangan darat karena menggunakan bahan utama dari daging sapi atau ayam. Yang membedakan, gangan darat dilengkapi dengan ubi kayu yang direbus serta tambahan pucuk daun kedongdong atau daun nangka saat disajikan.

to be continued….

Advertisements